Monday, November 29, 2010

Colin Chapman

Anthony Colin Bruce Chapman, lahir pada tanggal 9 Mei 1928 di London sebagai putra dari seorang manajer hotel, sarjana teknik sipil dari University College London, lulus sebagai pilot, pembalap paruh waktu, dan pendiri dari Lotus Engineering Co. Ltd., adalah salah satu kepribadian paling brilian dalam sejarah Formula 1. Ia membawa kesuksesan yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh Inggris di ajang balapan melalui Lotus. Ia merancang mobil, awalnya dibuat dan dikemudikan sendiri olehnya, mempromosikan produknya dan juga dirinya sendiri sebagai pemilik dan kepala operasional Team Lotus yang sangat kompeten.



Chapman mengikuti kompetisi balapan dengan sedikit uang dan tanpa pengalaman. Ia mungkin menjadi bos tim terakhir yang bekerja pada mobil-mobilnya sendiri di pitlane grand prix. Ia memulai Lotus dengan pinjaman £25 dari tunangannya dan uang tersebut terbukti merupakan sebuah investasi yang bijak saat Lotus meraih 73 kemenangan grand prix dan 7 gelar dunia konstruktor antara 1960 dan 1982. Lima pembalap berbeda - termasuk Graham Hill dan Jim Clark - telah menjadi juara dunia diatas mobil-mobil hebat rancangan Chapman.





Sebagai pemimpin tim, Ia merupakan otak dari inovasi-inovasi teknis yang tidak terlupakan di sepanjang sejarah. Selama karirnya, Ia menghasilkan ide-ide yang membuat wajah otomotif berubah. Lotus 25 merupakan sasis monocoque pertama di F1, 49 dengan inovasi mesinnya, Lotus 56 IndyCar memakai tenaga mesin turbin gas, Lotus 63 menjadi mobil F1 bermesin tengah pertama yang membalap dengan 4WD, dan 72 menerobos batas di bidang aerodinamika. Team Lotus menjadi tim besar pertama yang membawa sponsor ke atas mobil di akhir tahun 1960an. Chapman juga mempelopori penggunaan "strut" sebagai perangkat suspensi belakang.

Kemudian, tragedi menghantam. Setiap Ia kehilangan pembalap - seperti Alan Stacey, Mike Spence, Jochen Rindt atau Ronnie Peterson - sangat menghantui jiwa Chapman untuk balapan. Saat teman dekatnya Jim Clark tewas di atas kemudi F2 Lotus pada tahun 1968, dampaknya sangat dalam untuk Chapman. Ia bahkan kehilangan keinginan untuk terus menjalankan Team Lotus, meski sedang menjadi favorit peraih gelar dengan Lotus 49 Ford-Cosworth yang dominan. Graham Hill menyelamatkan Lotus tahun itu dari pengunduran diri emosional dengan menunjukkan hati kepemimpinan besar dari seorang Chapman dan semangat memenangkan kejuaraan yang memang dibutuhkan tim untuk kembali tampil percaya diri.



Di tengah tahun 1970an, insinyur-insinyur Lotus mulai mempelajari ground effect. Lotus 78, dan kemudian Lotus 79 dari tahun 1978 sangat luar biasa sukses dengan memenangkan gelar dunia F1. Tim juga mengembangkan mobil serat karbon penuh, Lotus 88 tahun 1981, mobil pertama yang menggunakan teknologi sasis ganda. Fakta penting lainnya, Lotus menjadi tim pertama peraih 50 kemenangan grand prix. Ferrari menyusul menjadi tim kedua, yang memenangkan balapan F1 pertama tahun 1951, tujuh tahun sebelum mobil Lotus F1 pertama diciptakan.



Sampai nafas terakhir hidupnya, Chapman tidak berhenti menemukan terobosan inovasi lainnya. Ia sedang mengembangkan mobil F1 pertama dengan suspensi aktif saat Ia meninggal dunia karena serangan jantung pada Desember 1982 di usia 54 tahun. Teknologi tersebut akhirnya muncul sepuluh tahun kemudian dimana mobil bersuspensi aktif mendominasi musim 1992.



Hampir 28 tahun setelah kepergiannya, Colin Chapman masih dikenang sebagai pengusaha bisinis, pembalap, perancang mobil, dan pemimpin tim paling unik dalam sejarah industri otomotif. Adapun beberapa sumber menyebutkan bahwa nama "Lotus" berasal dari julukan wanita pilihan hidup Chapman, "Lotus Blossom."

Sayang, kini Lotus berstatus abal-abal.

Mercedes

Debut Mercedes W196 Streamliner - GP Perancis 1954 (Reims)
Debut Mercedes W196 Streamliner - GP Perancis 1954 (Reims)

Di tahun-tahun awal abad ke-20, pengusaha Daimler Austria, Emil Jellinek, membalap mobil-mobil impor di bawah nama anak perempuannya - Mercedes. Pabrikan terkenal tersebut tampil pada kelahiran balapan Grand Prix, GP Perancis 1906, yang bertempat di Circuit de la Sarthe. Meski tidak ada kemenangan Jerman hari itu, tidaklah lama sebelum bintang berujung tiga, melambangkan penguasaan daratan, lautan, dan udara, membuat sejarah di ajang motorsport.


Adriana Manuela Ramona Jellinek (Mercédès)

Karyawan Daimler, Christian Lautenschlager, adalah bintang Mercedes yang pertama, memenangkan GP Perancis 1908 di Dieppe. Dia tetap mengurus pekerjaan pabriknya dan membalap sesekali, yang membuat kemenangan terkenalnya di GP Perancis 1914 - sebuah marathon tujuh jam bertempat di Lyon - terlihat luar biasa.

Persaingan dengan Auto Union

Setelah kebangkitan Hitler menuju kekuasaan pada tahun 1933, Mercedes mengambil tantangan yang ditawarkan sang Fuhrer untuk membangun mobil balap penguasa dunia. Hal tersebut merupakan perang propaganda yang juga menyalakan persaingan internal yang panas antara Mercedes dan Auto Union. Dua pabrikan Jerman tersebut mendominasi balapan Grand Prix dari tahun 1934 sampai pecahnya Perang Dunia II.

Era baru dimulai saat W25 rancangan Hans Nibel diperkenalkan pada GP Eifel 1934 di Nuerburgring. Mobilnya melampaui batas berat 750 kg yang baru dan bos tim Alfred Neubauer diceritakan meminta cat mobil untuk "dikupas", meninggalkan bodywork alumunium yang berkilauan terlihat; legenda Silberpfeile - Silver Arrows - telah lahir.

Caracciola mendapat tiga gelar Eropa

Bintang yang tidak diragukan lagi untuk era ini adalah, seperti Lautenschlager, seorang mantan pegawai perusahaan. Rudolf Caracciola dinobatkan menjadi juara Eropa sebanyak tiga kali antara tahun 1935 dan 1938, dikalahkan Auto Union Bernd Rosemeyer pada tahun 1936. Riwayat hidup Caracciola termasuk lima kemenangan di Grand Prix kampung halamannya, sangat mengecewakan bagi orang-orang Italia yang semakin berkurang minat sehingga pada tahun 1939 mereka mengadakan balapan sendiri dengan regulasi 1500cc. Mercedes merespon dengan membuat versi rendah dari mobil Grand Prix mereka dan mencetak kemenangan satu-dua. Model tersebut tidak pernah balapan lagi.

Neubauer masih menjadi dalang

Mercedes membuat keputusan kembali yang dramatis ke balapan Grand Prix pada tahun 1954, empat tahun sejak dimulainya kejuaraan dunia. Neubauer masih menjadi bos tim, dan Fangio direkrut untuk menjadi pemimpin barisan pembalap, meski sang juara musim 1951 sempat dua kali tampil untuk Maserati karena W196 yang baru belum siap untuk beraksi. Fangio dan Karl Kling kembali dengan penuh kejayaan, finish pertama dan kedua ketika W196 memulai debutnya di Reims. Fangio kemudian menang tiga dari empat balapan selanjutnya, W196 muncul dengan bentuk kedua model, streamline dan roda terbuka, selama musim berlangsung. Silverstone adalah satu-satunya sirkuit yang tidak cocok untuk mobil, dan meski demikian di sana Fangio mendulang poin untuk posisi keempat.


Mundur setelah tragedi Le Mans

Fangio ikut serta bersama Moss di tahun 1955, dan musim tersebut berkembang menjadi sebuah perburuan dua pembalap. Kemenangan Maurice Trintignant untuk Ferrari di Monako mencegah sapu bersih untuk Mercedes. GP Inggris di Aintree menyaksikan W196 pada dominasi terbaiknya, Karl Kling dan Piero Taruffi mengikuti Moss dan Fangio pulang untuk memberi Mercedes empat tempat finish teratas. Semangat dari kejayaan itu dinodai oleh peristiwa di Le Mans sebulan sebelumnya, dimana Mercedes 300 SLR Pierre Levegh terbang ke tempat para penonton, menyebabkan lebih dari 80 kematian. Empat balapan F1 kemudian dibatalkan, dan meski Fangio bisa mempertahankan mahkota dengan mudah, Mercedes mundur dari ajang balapan di akhir tahun.

Mercedes kembali ke F1 sebagai pemasok mesin untuk tim baru Sauber pada tahun 1993, berpindah ke McLaren dua tahun kemudian. Hal tersebut merupakan awal dari keberhasilan kerjasama yang memberi Mika Hakkinen gelar dunia berturut-turut tahun 1998 dan 1999, juga untuk Lewis Hamilton tahun 2008. Mercedes juga memasok mesin untuk tim lain, Brawn GP menjadi juara dunia bersama Jenson Button di musim 2009 yang penuh dengan perubahan. Kini, Mercedes telah kembali sebagai pabrikan.

Sunday, November 28, 2010

Race of Champions 2010



Race of Champions kembali hadir tahun 2010.

Jangan terkecoh dengan Race of Champions di Brands Hatch atau penerus Langhorne National Open, apalagi dengan International Race of Champions di AS. ROC yang ini bermula dari tahun 1988, yang telah menjadi event "All-Star" para pembalap terkenal dari berbagai ajang motorsport dunia.



Tanggal 27-28 November kemarin ROC digelar di Düsseldorf, Jerman. Sebastian Vettel dengan Michael Schumacher menjadi pahlawan lokal, Alain Prost kembali membalap bersama Sébastien Loeb, dan si pencari sensasi Travis Pastrana akan ditemani Carl Edwards. Jika Pastrana nongol bersama Ken Block, tidak bisa diragukan lagi bahwa ROC 2010 terancam berubah menjadi episode terbaru Nitro Circus.

Para kompetitor harus siap menaklukan Audi R8 LMS, Porsche 911, dan VW Scirocco. Mobil ROC, KTM X-BOW, Solution F Prototype, FJ Racecarm dan RX150 buggy juga harus bisa dijinakkan di Esprit Arena.

Berikut daftar lengkap para pembalap:

Sebastian VETTEL, Juara Dunia F1 2010
Michael SCHUMACHER, Juara Dunia F1 tujuh kali
Alain PROST, Juara Dunia F1 empat kali
Sébastien LOEB, Juara Dunia WRC tujuh kali
Mick DOOHAN, Juara Dunia GP500 lima kali
Tanner FOUST, Peraih medali emas rally dan rallycross X-Games 2010
Heikki KOVALAINEN, Pemenang GP F1
Tom KRISTENSEN, Juara balapan 24 Jam Le Mans delapan kali
Andy PRIAULX, Juara WTCC tiga kali
Jason PLATO, Juara BTCC dua kali
Alvaro PARENTE, Pemenang balapan GP2 & ROC South Europe 2010
Filipe ALBUQUERQUE, Pemenang balapan A1GP & ROC South Europe 2010
Jeroen BLEEKEMOLEN, Juara Porsche Supercup dua kali
Bertrand BAGUETTE, Juara World Series by Renault 2009
Carl EDWARDS, Juara NASCAR Nationwide Series 2007
Travis PASTRANA, Peraih medali emas X-Games sebelas kali

Berikut Highlights ROC 2010...

Si Gaje Pastrana


Sehidup-semati bersama sang kekasih...


Nations Cup...


Dadah...

Friday, November 26, 2010

Terima Kasih, Bridgestone!

1997-2010
14 musim
242 balapan
168 Pole position
170 Fastest Lap
175 kemenangan GP
11 WDC
11 WCC

Terima Kasih, Bridgestone!








Thursday, November 25, 2010

Monza


Meski mengalami berbagai perubahan selama sejarah panjangnya, Monza, atau Autodromo Nazionale di Monza, tetap dikenal secara luas sebagai salah satu sirkuit terbaik di dunia, dan merupakan salah satu rumah spiritual untuk F1. Monza telah menjadi tuan rumah setiap Grand Prix Italia, kecuali satu, semenjak dimulainya kejuaraan dunia pada tahun 1950. Kombinasi sejarah sirkuit dan fans Ferrari dari Italia, atau Tifosi, membuat atmosfir yang tidak ada bandingannya di tempat lain di dalam kalender F1, dengan kemungkinan pengecualian untuk Grand Prix San Marino di Imola.

Sirkuit semula, yang dulunya dibangun pada tahun 1922 di sebuah taman dekat Milan, terdiri dari sirkuit dan sebuah trek oval yang cepat, dan resmi dibuka untuk menggelar GP Italia kedua pada September tahun itu, dimana sebelumnya GP Italia pertama digelar pada tahun 1921 di Brescia. Balapan didonimasi Fiat, yang saat itu meraih empat tempat teratas.

Sayangnya, tragedi pertama kali datang di Monza pada tahun 1928, saat setir Emilio Materassi rusak, menghasilkan salah satu kecelakaan Grand Prix terburuk sepanjang masa. Materassi tewas seketika saat mobilnya menabrak pembatas trek, dan 20 penonton tewas karena terkena puing-puing mobil Materassi yang beterbangan. Akibatnya, balapan sempat dilarang di trek kecepatan tinggi ini sampai tahun 1932. Setelah Giuseppe Campari, Baconin Borzacchini dan Count Czaikowski kehilangan nyawa mereka pada tahun 1933, layout trek dimodifikasi dengan menghilangkan trek lurus yang lebih panjang dan menambahkan dua chicane. Perubahan lebih lanjut dibuat pada tahun 1938 dan 1939, dengan tambahan dua tikungan, sementara permukaan trek direnovasi dan tribun baru juga dibangun.

Selama Perang Dunia II, sirkuit digunakan untuk tempat kendaraan militer, dan sempat rusak parah karena pengeboman. Meski balapan F1 dimulai pada tahun 1950, renovasi penuh belum dilaksanakan sampai tahun 1955. Balapan pertama dimenangkan oleh Giuseppe Farina, dan dua balapan selanjutnya oleh Alberto Ascari, keduanya dari Italia. Legenda Argentina Juan Manuel Fangio meraih tiga kemenangan berikutnya. Kemudian untuk sisa dekade tersebut, Inggris mendominasi sirkuit, dengan tiga kali juara untuk Stirling Moss, dan sekali untuk Tony Brooks.

Pada tahun 1960 dan 1961, pembalap Amerika Phil Hill di atas Ferrari menjadi juara, tetapi balapan tahun 1961 kembali dinodai oleh tragedi, saat tabrakan antara Jim Clark dan Wolfgang von Trips menyebabkan von Trips dan 11 penonton tewas.

Perbaikan kemudian dibuat, termasuk penambahan area run-off dan dinding pengaman yang baru, dengan chicane menggantikan tikungan yang miring. Saat kecepatan terus meningkat, dua chicane tambahan dibuat pada tahun 1972, tetapi setelah kematian lima pembalap motor pada tahun 1973, kedua chicane dibangun ulang, dan satu lagi dibuat pada tahun 1976.

Sepanjang 1970an dan 1980an, perbaikan masih dilakukan demi keselematan, dan meski Monza tetap merupakan trek yang luar biasa cepat, balapan tahun 1971 bertahan sebagai yang tercepat di dalam catatan rekor, diselesaikan pada kecepatan rata-rata 242,616 km/jam (150,755 mil/jam) oleh Peter Gethin asal Inggris. Balapan tersebut juga menghasilkan finish terdekat sepanjang masa, dimana Gethin mengalahkan Ronnie Peterson dengan selisih 0,01 detik - saat F1 masih memiliki dua angka di belakang koma. Rekor tersebut mungkin sudah dipecahkan Rubens Barrichello dan Michael Scumacher di Indianapolis 2002, saat Rubinho finish 0,011 detik di depan Schumi.

Chicane kembali ditambah setelah kematian Ayrton Senna dan Roland Ratzenberger pada tahun 1994, dan chicane pertama di trek lurus utama diperbaharui dengan harapan untuk mengurangi kecelakaan pada tahun 2000. Namun, saat balapan tahun itu seorang marshal tewas akibat kecelakaan besar di chicane kedua.

Meski dengan segala usaha untuk mengurangi kecepatan di Monza, trek lurusnya tetap memastikan semua pembalap untuk flat-out di sebagian besar waktu balapan, dan saat babak kualifikasi tahun 2002, Juan Pablo Montoya menyelesaikan satu lap tercepat di F1, dengan kecepatan rata-rata 259,827 km/jam (162,392 mil/jam).

Wednesday, November 10, 2010

Suzuka



Grand Prix Jepang pertama kali digelar di Fuji Speedway pada tahun 1976, tetapi setelah tabrakan antara Gilles Villeneuve dan Ronnie Peterson di tahun 1977 yang menyebabkan kematian seorang marshal dan beberapa penonton, balapan kemudian dipindahkan ke Suzuka, dimana GP Jepang selalu diadakan di sana sejak 1987 sampai Fuji kembali menjadi tuan rumah tahun 2007.

Sirkuit Suzuka didesain oleh John Hugenholtz dari Belanda pada tahun 1962 sebagai trek uji coba untuk Honda, dan unik untuk F1 karena lokasi dan layoutnya, terdiri dari bentuk menyerupai angka delapan yang termasuk di dalam sebuah taman rekreasi. Suzuka juga termasuk diantara yang terpanjang di F1, dan menyuguhkan beberapa fitur menantang lainnya, termasuk start yang menurun, sebuah variasi tikungan cepat dan chicane sempit, dan jumlah tikungan kiri dan kanan yang sama, sebuah ciri khas yang unik sampai dibangunnya Shanghai International Circuit yang baru di China.

Suzuka umumnya dikenal sebagai sirkuit terhebat sepanjang masa baik oleh para pembalap maupun penonton, dengan banyaknya tantangan teknis untuk pembalap, juga beberapa titik kesempatan untuk menyusul, keduanya membuat balapan menarik.

Daya tarik tambahan datang dari fakta bahwa Suzuka biasanya menjadi tuan rumah balapan terakhir atau kedua terakhir untuk kalender F1, dan sekitar setengah dari jumlah balapan di Suzuka telah menjadi penentu kejuaraan dunia.

Balapan pertama di Suzuka merupakan salah satu contohnya, dimana kemenangan diraih Gerhard Berger untuk Ferrari, tetapi gelar juara dunia diberikan kepada Nelson Piquet oleh rekan setimnya di Williams Nigel Mansell, setelah ia terluka akibat kecelakaan saat latihan.

Kemudian, pada tahun 1989 dan 1990 datang pertarungan kejuaraan kontroversial antara Ayrton Senna dan Alain Prost, yang menyaksikan keduanya bertabrakan dalam kedua kesempatan tersebut. Di tahun 1989, Prost membanting setir ke arah mobil Senna saat ia mencoba menyusul, memastikan Senna tidak akan bisa merebut gelar dari Prost, kemudian pada tahun 1990 Senna memaksa Prost keluar trek bersama-sama di tikungan pertama selepas start, sebuah gerakan yang kemudian Senna akui disengaja, yang memastikan ia menjadi juara dunia.

Yang lebih baru, dan tentunya lebih sportif, sebagian besar hiburan disajikan dari persaingan antara Michael Schumacher dengan Mika Hakkinen, dengan kemenangan Schumi tahun 2000, di kondisi basah, memberinya gelar dunia pembalap ketiga dan pertama untuk Ferrari sejak Jody Scheckter dua puluh satu tahun sebelumnya, sementara untuk tahun 2003, posisi pertama diraih Rubens Barrichello, tetapi Schumi berhasil mendulang poin yang memberinya gelar keenam, mengalahkan rekor yang dipegang legenda Argentina Juan Manuel Fangio sejak 1957.

Siapa yang bisa melupakan GP Jepang 2005?

Tuesday, November 9, 2010

Tragedi Le Mans 1955


Tragedi terbesar dalam sejarah balapan, Le Mans 1955 menelan korban banyak korban meninggal dunia. Sampai sekarang tidak ada kecelakaan separah ini terjadi lagi. Mobil Pierre Levegh terbang ke ke arah penonton dan melemparkan puing-puing serpihan ke berbagai arah. Kebakaran pun tak bisa dihindari. Video ini mungkin tidak cocok untuk beberapa dari Anda.

Beberapa korban dilaporkan tewas dengan kondisi terpotong-potong, termasuk di bagian kepala. Jumlah pasti jumlah korban tewas tidak diketahui. Berbagai sumber menyebutkan angka 80 sampai 120 orang meninggal.

Salah satu hal yang "bagus" dari video dokumenter ini adalah diungkapnya film video kecelakaan yang telah tersimpan hampir 55 tahun dari mata publik. Dokumenter ini menceritakan seluruh kejadian dengan detail, termasuk kesaksian dari mereka yang lolos dari maut.





DOWNLOAD

Grand Prix (1966) - DVDRip HD 720P

HD 720P Version

DOWNLOAD

Title: Grand Prix / Grand Prix
Released: 1966
Country: United States
Length: 2:55:59
Translation: Professional (Polyphony, voice)
Genre: sports, adventure, drama
Director: John Frankenheimer / John Frankenheimer
Cast: James Garner / James Garner /, Eva Marie Saint / Eva-Marie Saint /, Yves Montand / Yves Montand /, Toshiro Mifune / Toshiro Mifune /, Brian Bedford / Brian Bedford /, Jessica Walter / Jessica Walter /, Antonio Sabato / Antonio Sabato /, Francoise Hardy / Francoise Hardy /, Adolfo Cheli / Adolfo Celi /, Claude Dofen / Claude Dauphin /

Description: Creator of "Manchurian Candidate" (1962) and "Seven Days in May" (1964), John Frankenheimer (1930-2002), took a better picture about the world of Formula 1 ", immediately gained cult status among fans. For better results when shooting racing Frankenheimer dividing the screen into pieces, place the camera on the machines themselves, to shoot a few inches from the track. To work on the film, involving the viewer in full speed and passion of motor racing world were invited to the brilliant actors Yves Montand (1921-1991), James Garner (born 1928) and Toshiro Mifune (1920-1997). In the episodes starring such grants F1 as Juan Manuel Fangio, Phil Hill and Graham Hill.
Personal life and love of the four professional racers played Montand, Garner, Sabato and Bedford, interspersed impressively filmed motor racing in this exciting adventure film. Characters of the film, risked his life to fight for victory in several major European competition series "Formula 1", including the Monaco Grand Prix, Britain, Italy

Quality: HD DVDRip
Format: MKV
Video: 1280x576 (2.20:1 OAR), 23.976 fps, AVC (H264), ~ 5815 kbps
Audio # 1: Russian : 48 kHz, AC3, 3 / 2 (L, C, R, L, r) + LFE CH, ~ 384.00 Kbps avg | Polyphonic voiceover |
Audio # 2: English : 48 kHz, AC3, 3 / 2 (L, C, R, l, r) + LFE ch, ~ 640.00 kbps avg
Subtitles: English

Great movie - a classic movie. Until now, nothing better on the subject of Formula 1 is not removed. Excellent quality as a movie in 1966 - the studio is not stingy on the road remastered and the video looks better than new movies
3 prizes Oscar, nominated for 2 Golden Globe. Nominated for the award Guild of American directors.

Note: Released on HD-DVD with which to rip a theatrical release in 1966. It begins with a 4-minute musical overture, in the middle of the stops on the 2-minute intermission, and contains some original scenes.


DVDRip Version:

DOWNLOAD

Genre: Adventure, Sports, Drama
Length: 2:49:35
Translation: Professional (Two)

Director: John Frankenheimer / John Frankenheimer
Screenplay: Robert Alan Arthur, John Frankenheimer, William Hanley
Producer: Kirk Douglas, John Frankenheimer, James Garner, ...
Operator: Lionel Lindon
Composer: Maurice Jarre

Starring:
James Garner / James Garner, Eva Marie Saint / Eva-Marie Saint, Yves Montand / Yves Montand, Toshiro Mifune / Toshiro Mifune, Brian Bedford / Brian Bedford, Jessica Walter / Jessica Walter, Antonio Sabato / Antonio Sabato, Françoise Hardy / Francoise Hardy, Adolfo Cheli / Adolfo Celi, Claude Dofen / Claude Dauphin

Supplement:
3 prizes Oscar, nominated for 2 Golden Globe. Nominated for the award Guild of American directors. Creator of "Manchurian Candidate" (1962) and "Seven Days in May" (1964) John Frankenheimer (1930-2002) took a better picture about the world of Formula 1, "immediately gained cult status among fans. For better results when shooting racing Frankenheimer dividing the screen into pieces, place the camera on the machines themselves, to shoot a few inches from the track. To work on the film, involving the viewer in full speed and passion of motor racing world were invited to the brilliant actors Yves Montand (1921-1991), James Garner (born 1928) and Toshiro Mifune (1920-1997).

Personal life and love of the four professional racers played Montand, Garner, Sabato and Bedford, interspersed impressively filmed motor racing in this exciting adventure film. Characters of the film, risked his life to fight for victory in several major European competition series "Formula 1", including the Monaco Grand Prix, Britain and Italy.

Premiere (World): December 21, 1966
Budget: $ 9,000,000

Format: AVI
Video Codec: XviD
Audio Codec: MP3
Video: 640x288 23.98fps 999 kbps
Audio: 48000Hz 128 kb / s total (2 chnls)