
Debut Mercedes W196 Streamliner - GP Perancis 1954 (Reims)
Di tahun-tahun awal abad ke-20, pengusaha Daimler Austria, Emil Jellinek, membalap mobil-mobil impor di bawah nama anak perempuannya - Mercedes. Pabrikan terkenal tersebut tampil pada kelahiran balapan Grand Prix, GP Perancis 1906, yang bertempat di Circuit de la Sarthe. Meski tidak ada kemenangan Jerman hari itu, tidaklah lama sebelum bintang berujung tiga, melambangkan penguasaan daratan, lautan, dan udara, membuat sejarah di ajang motorsport.

Adriana Manuela Ramona Jellinek (Mercédès)
Karyawan Daimler, Christian Lautenschlager, adalah bintang Mercedes yang pertama, memenangkan GP Perancis 1908 di Dieppe. Dia tetap mengurus pekerjaan pabriknya dan membalap sesekali, yang membuat kemenangan terkenalnya di GP Perancis 1914 - sebuah marathon tujuh jam bertempat di Lyon - terlihat luar biasa.
Persaingan dengan Auto Union
Setelah kebangkitan Hitler menuju kekuasaan pada tahun 1933, Mercedes mengambil tantangan yang ditawarkan sang Fuhrer untuk membangun mobil balap penguasa dunia. Hal tersebut merupakan perang propaganda yang juga menyalakan persaingan internal yang panas antara Mercedes dan Auto Union. Dua pabrikan Jerman tersebut mendominasi balapan Grand Prix dari tahun 1934 sampai pecahnya Perang Dunia II.
Era baru dimulai saat W25 rancangan Hans Nibel diperkenalkan pada GP Eifel 1934 di Nuerburgring. Mobilnya melampaui batas berat 750 kg yang baru dan bos tim Alfred Neubauer diceritakan meminta cat mobil untuk "dikupas", meninggalkan bodywork alumunium yang berkilauan terlihat; legenda Silberpfeile - Silver Arrows - telah lahir.
Caracciola mendapat tiga gelar Eropa
Bintang yang tidak diragukan lagi untuk era ini adalah, seperti Lautenschlager, seorang mantan pegawai perusahaan. Rudolf Caracciola dinobatkan menjadi juara Eropa sebanyak tiga kali antara tahun 1935 dan 1938, dikalahkan Auto Union Bernd Rosemeyer pada tahun 1936. Riwayat hidup Caracciola termasuk lima kemenangan di Grand Prix kampung halamannya, sangat mengecewakan bagi orang-orang Italia yang semakin berkurang minat sehingga pada tahun 1939 mereka mengadakan balapan sendiri dengan regulasi 1500cc. Mercedes merespon dengan membuat versi rendah dari mobil Grand Prix mereka dan mencetak kemenangan satu-dua. Model tersebut tidak pernah balapan lagi.
Neubauer masih menjadi dalang
Mercedes membuat keputusan kembali yang dramatis ke balapan Grand Prix pada tahun 1954, empat tahun sejak dimulainya kejuaraan dunia. Neubauer masih menjadi bos tim, dan Fangio direkrut untuk menjadi pemimpin barisan pembalap, meski sang juara musim 1951 sempat dua kali tampil untuk Maserati karena W196 yang baru belum siap untuk beraksi. Fangio dan Karl Kling kembali dengan penuh kejayaan, finish pertama dan kedua ketika W196 memulai debutnya di Reims. Fangio kemudian menang tiga dari empat balapan selanjutnya, W196 muncul dengan bentuk kedua model, streamline dan roda terbuka, selama musim berlangsung. Silverstone adalah satu-satunya sirkuit yang tidak cocok untuk mobil, dan meski demikian di sana Fangio mendulang poin untuk posisi keempat.
Mundur setelah tragedi Le Mans
Fangio ikut serta bersama Moss di tahun 1955, dan musim tersebut berkembang menjadi sebuah perburuan dua pembalap. Kemenangan Maurice Trintignant untuk Ferrari di Monako mencegah sapu bersih untuk Mercedes. GP Inggris di Aintree menyaksikan W196 pada dominasi terbaiknya, Karl Kling dan Piero Taruffi mengikuti Moss dan Fangio pulang untuk memberi Mercedes empat tempat finish teratas. Semangat dari kejayaan itu dinodai oleh peristiwa di Le Mans sebulan sebelumnya, dimana Mercedes 300 SLR Pierre Levegh terbang ke tempat para penonton, menyebabkan lebih dari 80 kematian. Empat balapan F1 kemudian dibatalkan, dan meski Fangio bisa mempertahankan mahkota dengan mudah, Mercedes mundur dari ajang balapan di akhir tahun.
Mercedes kembali ke F1 sebagai pemasok mesin untuk tim baru Sauber pada tahun 1993, berpindah ke McLaren dua tahun kemudian. Hal tersebut merupakan awal dari keberhasilan kerjasama yang memberi Mika Hakkinen gelar dunia berturut-turut tahun 1998 dan 1999, juga untuk Lewis Hamilton tahun 2008. Mercedes juga memasok mesin untuk tim lain, Brawn GP menjadi juara dunia bersama Jenson Button di musim 2009 yang penuh dengan perubahan. Kini, Mercedes telah kembali sebagai pabrikan.