
OK, 100.000 orang bisa berkumpul untuk mendukung Timnas Garuda di Gelora Bung Karno.
Suatu negara berkewajiban untuk mengembangkan dan mendukung setiap olah raga agar dapat mengharumkan nama bangsanya. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana bisa kalah dari Malaysia dan Singapura?
Di Indonesia sendiri memilki dua sirkuit internasional dengan grade yang masih bisa ‘menampung’ balapan sekelas WTCC atau Motogp, tidak terlalu buruk. Ditambah degan sirkuit-sirkuit kecil permanen lainnya. Tapi Indonesia tidak mempunyai penjenjangan yang jelas untuk menuju balapan tertinggi kelas internasional. Sangat menyedihkan bagi suatu negara yang berpenduduk 200 juta jiwa lebih kurang memiliki fasilitas untuk mengembangkan karirnya. Pemerintah seharusnya berpikiran lebih maju, bukan malah melakukan tindakan-tindakan represif seperti menangkapi balapan liar. Balapan liar di jalan raya yang notabene fasilitas umum adalah perbuatan melanggar hukum. Tapi coba jika minimal setiap kota/kabupaten atau minimal provinsi ada sirkuit permanen resmi saya kira balapan liar akan sangat berkurang secara signifikan. Dan harus disertai juga banyaknya kejuaraan otomotif di berbagai jenis dan kelas balapan.
Biasanya para pembalap yang mau maju akan tinggal di luar negeri. Ananda mikola, Zahir Ali, Alexandra Asmasoebrata, Rio Haryanto, Doni Tata, Rifat Sungkar, Hendriansyah, Subhan Aksa dan banyak lagi yang lainnya adalah nama-nama pembalap yang masih atau pernah berlaga di tingkat internasional. Sampai saat ini pencapaian tertinggi karir pembalap Indonesia hanya sampai A1, F3000 internasional (sekarang F2), sempat WRC (bukan kelas puncak), kelas 500cc (dulu tahun 1970an), GP 250 cc, dan supersport dunia. Bisa dibilang para pembalap kita masih tertahan di kelas dibawah kelas tertinggi, masalahnya klasik yaitu dukungan sponsor yang kurang. Padahal seorang pembalap baru untuk dapat ke kelas puncak butuh dukunga dana besar baik untuk prosesnya maupun untuk ‘upeti’ tim. Jadi sampai dimana dukungan pemerintah?
Media massa memegang peranan penting di dalam memasyarakatkan olahraga otomotif. Namun saya secara pribadi sangat kecewa dengen ekspose yang sangat-sangat berlebihan sekali pada atlet olah raga lain yang jika dibandingkan dengan prestasi Rio Haryanto di tingkat internasional kelasnya sangat jauh, kelas sapi dan kelas kambing. Sorry harus dibilang begitu karena media berperan dalam ‘menenggelamkan’ berita dunia otomotif dibanding berita olah raga lainnya. Bahkan bagi pemegang hak siar balapan tertinggi pun sampai sekarang masih banyak keluhan karena kualitasnya tidak memuaskan.
So…sekarang waktunya menanti komitmen pemerintah kepada dunia otomotif agar dapat merubah semuanya menjadi lebih baik.(KF)